Saturday, May 11, 2013

I Miss My Pesantren Nurun Nisa’ =')


ZOE [6.51pm]

Aku menulis ini karena aku sedang kangen sekali dengan pesantrenku, ustadzahku, dan teman-temanku di pesantren. Well, aku mengaji dan menimba ilmu di pesantren Nurun Nisa’ mulai umur 6 tahun (SD) sampai dengan 18 tahun (SMA). Aku berhenti mengaji di pesantren Nurun Nisa’ sejak kuliah karena jadwal kuliahku sering sampai malam. Sumpah aku kangen sekali dengan suasana majlis taklim di pesantrenku. Meskipun bukan pesantren full time, tapi ilmu yang aku dapatkan dari Nurun Nisa’ sama dengan yang didapat oleh santriwati yang ada di pesantren full time. Di pesantrenku, aku belajar rosem usmani, fiqih, tauhid, risalatul mahid, safinatun naja’, akhlaqul banat, akhlaqun nisa’, imroatusholihah, bahasa Arab, shorof/tasrif, jurumiyah, tajwid, dan rotibul haddad. 

Di kampungku, jumlah anak yang berani mengaji di Nurun Nisa’ cuma sedikit, karena kebanyakan dari mereka takut dengan Abah Qodir yang katanya “galak” kalau mengajar. Well, Pesantren Nurun Nisa’ diasuh oleh KH. Abdul Qodir beserta putri-putrinya yaitu Ustadzah Habibah, Ustadzah Choiriyah, Ustadzah Fatimah, dan Ustadzah Rabi’ah. Pesantrenku merupakan pesantren NU. Jadi mulai kecil sampai sekarang (insyallah) aku masih tetap seorang Nahdiyyin. Mengaji di Pesantren Nurun Nisa’ TIDAK dipungut biaya sama sekali alias gratis tis tis! Kurang enak gimana coba dapat ilmu banyak tanpa harus membayar pula? Dan perlu diketahui, tidak ada hari libur di pesantrenku. Kata Ustadzahku ibadah itu tidak boleh ada liburnya jadi mengaji pun tidak perlu ada hari liburnya. Tidak heran kalo kami absen (tidak masuk ngaji), orang tua kami  wajib datang ke rumah Abah untuk mengijinkan kami. Jadi kalo kami tidak masuk ngaji tanpa surat ijin maka kami akan disetrap (disuruh berdiri) sampai pulang. Bayangkan kaki bisa kram tuh. Hihihihi I miss that moment anyway =’)

Well, beberapa dari kami (termasuk aku) pernah bolos ngaji dengan alasan sedang mengerjakan PR dari sekolah atau sedang belajar untuk ulangan harian di sekolah. Tentu saja ustadzahku marah jika mendengar alasan seperti itu karena menurut beliau mengaji tidak akan mengganggu indeks prestasi akademik di sekolah, bahkan kalo kita tetap mengaji meskipun besok ada ujian di sekolah, insyaallah akan dipermudah. Ustadzahku sering menasehati kami seperti ini “Saya tidak melarang sampeyan untuk menjadi apapun. Sampeyan semua boleh jadi profesor, tapi jadilah profesor yang pintar ngaji”. Kata-kata ustadzahku memang terbukti benar. Mungkin waktu SD prestasi akademikku di sekolah biasa-biasa saja, tapi sejak SMP prestasiku meningkat bahkan sampai bisa masuk kelas unggulan karena selain belajar keras aku juga tidak pernah bolos mengaji di pesantren setiap malam! =D Sumpah aku kangen dengan nasihat ustadzahku khususnya Ustadzah Habibah.

Alasan lain kenapa banyak temanku di kampung males mengaji di pesantrenku karena menurut mereka pelajaran di pesantrenku itu terlalu sulit, kitabnya banyak, dan pulangnya malam. Memangnya apa saja sih yang dipelajari di pesantrenku? Well, ini dia jadwal pelajaran di pesantrenku:

Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Bhs. Arab
Al-Quran
Al-Quran
Rotibul Haddad
Al-Qur’an
Al-Qur’an
Al-Qur’an
Shorof / Tasrif
Risalatul Mahid
Khulashoh Nurul Yaqin
Diba'
Imroatusholiha

Tajwid
Jurumiyah / Nahwu
Safinatun Naja'


Akhlaqul Banat



Berdasarkan jadwal di atas porsi Al-Quran memang paling banyak (hampir setiap hari) karena kami memang diajari untuk membaca Al-Quran dengan gaya bacaan Imam Hafs disertai tajwid yang baik dan benar, jadi bacaan Al-Quran kami harus dilatih setiap hari. Well, jujur saja awalnya aku juga takut mengaji di Nurun Nisa’ karena rumor tentang “galaknya” Abah Qodir. Sebenarnya Abah Qodir itu tidak galak tapi beliau itu tegas dan suaranya besar jadi otomatis suaranya terdengar seperti galak bagi anak kecil. Abah Qodir juga terkenal “strict” dalam mengajar. Saat kami “setor” bacaan Al-Quran jangan harap bisa naik ke halaman selanjutnya jika tajwid kami tidak benar-benar tepat. Jika hari ini kami “setor” bacaan Al-qur’an halaman 1, tapi tajwid kita tidak benar, maka kami tidak akan dinaikkan ke halaman berikutnya, bahkan yang paling parah kita akan diturunkan lagi ke Juz Amma.  Untuk menghindari hal itu, sebelum berangkat ngaji, aku selalu meminta bapakku untuk mengajariku terlebih dahulu di rumah, jadi waktu setor bacaan Al-Qur’an di pesantren aku bisa lancar dan tidak dimarahi Abah hihihihi

Di Pesantren Nurun Nisa’, kami semua diwajibkan memakai Al-Quran Rosem Usmani asli terbitan Arab, bukan terbitan Kudus. Kalau tidak punya uang untuk membeli Qur’an Rosem Usmani, kami dianjurkan menabung. Dulu waktu aku masih SD, Qur’an Rosem Usmani masih jarang ada di Indonesia, kalopun ada pasti harganya mahal. Saat teman-temanku belum punya Quran Rosem Usmani, aku sudah punya beberapa Al-Qur’an Usmani milik almarhum bapakku karena almarhum bapakku memang alumni pondok pesantren salafiyah.

Kita tahu kan Qur’an Rosem Usmani terbitan Arab itu harokat yang dimunculkan sedikit, sedangkan Qur’an terbitan Kudus harokatnya dimunculkan semua.  Sejak kecil aku sudah terbiasa membaca Qur’an Rosem Usmani terbitan Arab yang harokatnya sedikit jadi kalo sekarang disuruh membaca Qur’an terbitan Kudus aku jadi sedikit bingung karena harokatnya kebanyakan. Alhasil setiap ada pelajaran agama di sekolah/kampus atau saat mengikuti lomba tartil Qur’an aku selalu membawa Qur’an sendiri dari rumah.  Well, berkat didikan Abah Qodir jugalah, aku jadi terbiasa dengan bacaan Al-Qur’an ala Imam Hafs dengan logat Arab yang kental. Mungkin kebanyakan orang tidak percaya kalo aku yang “metal” ini bisa membaca Al-qur’an ala Imam Hafs karena penampilan luarku memang tidak begitu alim sih. =P

Ada sebuah kejadian lucu waktu aku kuliah semester pertama. Waktu itu dosenku di matakuliah agama menyuruh dua orang mahasiswa (1 cewek dan 1 cowok) untuk membaca al-quran. Kebetulan tidak ada mahasiswa cewek yang mengajukan diri membaca al-quran, akhirnya aku putuskan untuk mengacung. Semua temanku kaget tidak percaya saat aku mulai membaca Qur’an. Saat pulang kuliah beberapa temanku langsung bertanya kepadaku “kamu belajar ngaji di mana?”. Aku menjawab “Di Pesantren Nurun Nisa’ dong”. Bahkan dulu sempat ada mahasiswa yang ikut organisasi HTI memintaku untuk mengajarinya mengaji. Sumpah waktu itu teman-temanku tertawa cekikikan saat melihat aku yang “metal” ini mengajari ngaji anak HTI. Memang sih waktu kuliah aku tidak pernah mengikuti organisasi keagamaan di kampus karena aku lebih suka belajar agama di pesantren soalnya di organisasi keagamaan kampus cenderung mencampur agama dengan politik, sedangkan aku ingin mempelajari agama murni sebagai agama. That’s why, aku lebih suka mengaji di pesantren daripada mengikuti organisasi keagamaan di kampus.

Pelajaran yang paling aku sukai di pesantren Nurun Nisa’ adalah Bahasa Arab. Kitab Bahasa Arab yang digunakan di pesantrenku full berbahasa Arab tanpa ada bantuan vocab berbahasa Indonesia sama sekali. Jadi kalau kami mau menerjemahkan kata-kata yang tidak kami pahami kami harus melihatnya di Kamus Al-Munawwir. Dalam belajar bahasa Arab kami tidak hanya disuruh berbicara tapi kami juga disuruh meng-i’rab susunan grammarnya. Ilmu grammar dalam Bahasa Arab disebut “Shorof/Tasrif”. Dalam bahasa Arab, grammar past tense disebut fi’il madhi, present continuous tense disebut “fi’il mudhorik” etc. Sedangkan untuk menguasai susunan kata-katanya (atau disebut sintax dalam linguistics), kami mempelajarinya dari kitab Jurumiyah. Kami juga harus menghafalkan huruf jer, huruf mudhof, mubtada’, khobar, dan dhomir. Mungkin ini akan sangat sulit bagi para pemula. Untungnya Gusti Allah memberiku bakat di bidang bahasa.  Sejak kecil sampai dewasa aku memang bisa mempelajari semua bahasa asing dengan mudah. Karena bakatku di bidang bahasa Arab inilah akhirnya ustadzahku menyuruhku untuk mengajar juniorku di pesantren saat pelajaran bahasa Arab. Bahkan aku juga pernah disuruh mengajari para seniorku berbahasa Arab. Kalo disuruh mengajari para senior mah ampun deh soalnya aku agak canggung saat mengajari orang yang lebih tua karena aku takut dikira “metuwek”.

Ada juga pengalaman yang membuatku sangat canggung. Saat SMA aku punya teman cewek yang kebetulan ikut ekstrakulikuler  BDI (Badan Dakwah Islam). Namanya Murtiani. Si Murtiani ini anaknya sangat alim, lemah lembut, dan pakaiannya syar’i banget. Si Murtiani mengetahui kalau aku bisa bahasa Arab. Akhirnya, dia meminta tolong padaku untuk mengajari Bahasa Arab di BDI. Tentu saja aku tidak menolak permintaan cewek yang baik hati bernama Murtiani itu. Beberapa hari kemudian aku mengajari anak-anak BDI berbahasa Arab. You know what? Aku canggung karena aku tidak memakai jilbab sedangkan mereka yang aku ajari justru memakai jilbab semua. Sumpah aku jadi merasa hina, berdosa, dan bahkan aku merasa diriku ini menjadi najis mugholadhoh secara tiba-tiba. -__- Sejak saat itu, aku meminta Murtiani untuk mengganti jadwal mengajarku menjadi hari Rabu karena kebetulan setiap hari Rabu aku memakai jilbab soalnya kan memang ada pelajaran agama yang mewajibkan semua murid memakai jilbab setiap hari Rabu di SMA-ku. Selain itu, aku juga sering mewakili kelasku di SMA saat ikut lomba tartil al-quran. hihihihi

Ilmu Bahasa Arab dan Quran yang aku pelajari di Pesantren Nurun Nisa memang sangat bermanfaat tidak hanya untuk orang-orang di sekitarku tapi juga untukku. Salah satu contohnya adalah: Waktu aku lulus kuliah, aku ingin menjadi guru ataupun dosen bahasa Inggris. Alhamdulillah waktu itu ada lowongan guru bahasa Inggris di sebuah Islamic Boarding School. Tentu saja tidak mudah untuk menjadi guru bahasa Inggris di Islamic Boarding School karena proses seleksinya sangat ketat meliputi: (1) Membaca Al-Quran secara tartil, (2) Imlak bacaan Qur’an secara tertulis, (3) Micro-teaching Bahasa Inggris, dan (4) Wawancara dalam bahasa Arab-Inggris. Saat itu ada kurang lebih 15 orang yang melamar dan hampir semua pelamar adalah lulusan Universitas Islam (berbasis agama). Mungkin hanya aku satu-satunya lulusan Universitas Brawijaya. Tentu saja peluang mereka yang lulusan Universitas Islam akan jauh lebih besar untuk menjadi guru di Islamic Boarding School. Akan tetapi, aku tidak mau kalah bersaing dengan mereka karena meskipun aku bukan lulusan Universitas Islam, tapi aku pernah menimba ilmu di pesantren selama 10 tahun. Dari 15 orang pelamar hanya akan ada 1 orang yang diterima. Coba tebak, dari proses seleksi yang begitu panjang, siapakah salah satu dari 15 orang yang akhirnya diterima? Subhanallah jawabannya adalah AKU! Akhirnya di Islamic Boarding School tersebut, aku mengajar Bahasa Inggris untuk kelas Al-Khawarizmi, Al-Gebra, Ibnu Sina, Al-Haitham, dan Al-Hayyan. Tentu saja semua keberhasilanku ini berkat ilmu yang aku pelajari di Pesantren Nurun Nisa’-ku tercinta dan doa dari ustadzahku serta orang tuaku.

Yang bikin kangen juga adalah pelajaran Akhlaqul Banat soalnya aku dan teman-temanku sering merasa tersindir di pelajaran ini. Ustadzah kami sangat bijaksana. Beliau tidak pernah memarahi kami secara langsung di depan umum jika kami melakukan kesalahan, tapi beliau selalu menasehati kami melalui analogi cerita. Contohnya, waktu itu aku dan beberapa temanku kan ditunjuk untuk ikut drama bahasa Arab di acara Maulid Nabi. Aku dan teman-temanku selalu pulang terakhir karena kami harus latihan dulu. Lah waktu menunggu latihan itu, kami melihat seorang santri cowok dari Nurur Rijal yang sedang membaca Al-quran. Tentu saja aku yang selalu suka dengan cowok alim pinter ngaji ini tidak tahan untuk “mengintip” saat cowok itu membaca Al-Quran. Hihihihi Tapi apesnya lah kok di belakang kami ada ustadzah kami. Waktu itu kami tidak langsung dimarahi, tapi waktu hari Jumat pas pelajaran Akhlaqul Banat tiba-tiba ustadzah kami membahas bab tentang zina mata. Aku dan teman-temanku saling lirik-melirik sambil mesam-mesem. Aku tahu ini pasti gara-gara insiden kepergok minggu lalu nih. =P

Ada lagi kejadian lucu. Waktu itu ada temanku yang mau meminjam buku padaku. Lah posisi tempat dudukku berjarak 1 meter dengan posisi tempat duduk temanku itu. Karena dia males berjalan menghampiriku, akhirnya dia berteriak dari jauh dengan suara yang keras bilang gini “Heh Zuh, Zuhria besok aku pinjam bukumu yo?”. Kebetulan waktu itu kok ustadzah kami ada di depan pintu. You know what? Pas pelajaran Ahlaqul Banat minggu depannya, ustadzah kami membahas bahwa suara perempuan adalah aurot jadi kalau ingin memanggil teman yang jaraknya jauh tidak boleh berteriak, tapi hampiri temanmu itu dan tepuk pundakknya dan sapalah dengan suara lirih. Aku pun cekikian. Ini pasti sedang menyindir temanku yang berteriak padaku minggu lalu nih. XD

Sebelum memulai pelajaran, kami diwajibkan membaca doa ini dengan tegas dan semangat tidak boleh loyo kayak orang ngantuk. Jika kami membaca ini dengan loyo pasti kami akan disuruh mengulangi sampai bacaan kami terdengar tegas! Ini dia doa yang selalu kami baca =') 
Ini foto ustadzahku. Ustadzah Choiriyah dan Ustadzah Habibah. I miss you so much ustadzah. Semoga beliau-beliau selalu sihiyah wal'a fiyah =')


Ini foto-foto santri-santri gaul Pesantren Nurun Nisa'. Mereka adalah rofiqoty-rofiqoty juniorku yang lagi on action =D





Sumpah aku kangen menimba ilmu di pesantrenku. Aku kangen dinasehati oleh ustadzahku, aku kangen guyon dengan teman-temanku. If I could turn back in time, I would repeat my moments in my ma’had! Indeed, Pesantren Nurun Nisa’ means a lot to me! Allah yahmakum  =’)

Best Regards, 
ZOE

0 comments:

Post a Comment